Pengendalian Gulma, Hama dan
Penyakit Pada Kedelai
Dalam penangkaran kedelai, gulma,
hama dan penyakit tanaman kedelai berpotensi menurunkan kuantitas dan kualitas
hasil benih. Ketiga faktor pengganggu tersebut dan cara penanggulangannya perlu
diketahui oleh para penangkar benih kedelai.
A.
Gulma pada Pertanaman Kedelai
Gulma
adalah tanaman yang tidak dikehendaki yang tumbuh bersama tanaman kedelai yang
sedang diusahakan, serta sisa-sisa tanaman sebelum pelaksanaan penangkaran
benih. Tanaman-tanaman tersebut merupakan kompetitor atau pesaing dalam
pemanfaatan air, zat hara tanah, sinar matahari, dan ruang di sekitar tanaman
kedelai, bahkan berperan sebagai inang hama serta penyakit tertentu. Akumulasi
dari tingkat persaingan oleh gulma tersebut tampak nyata di lahan. Pada
tempat-tempat yang telah ditumbuhi gulma, tanaman kedelai tidak dapat tumbuh
dengan baik. Menurut Soetikno S. Sastroutomo (1990) penurunan hasil akibat
kompetisi gulma pada pertanaman kedelai dapat mencapai 10-50%.
Ragam dan
pertumbuhan gulma di setiap lahan dipengaruhi oleh keadaan, milieu dan
perlakuan lahan. Gulma yang biasa tumbuh pada lahan pertanaman kedelai terdiri
atas lebih dari 56 macam, meliputi jenis rerumputan, teki-tekian, dan jenis
gulma berdaun lebar. Pada lahan dengan indeks pertanaman 300% atau tidak
mengalami masa istirahat lama, ragam dan jumlah gulma relatif sedikit.
Sebaliknya, pada lahan yang mengalami masa istirahat lama (bero), ragam dan
jumlah gulma relatif banyak. Beberapa jenis gulma yang dominan pada pertanaman
kedelai antara lain adalah Amaranthus sp. (bayam), Digitaria ciliaris
(rumput jampang), Echinochloa colonum (rumput jejagoan), Eragrotis
enioloides (rumput bebekan), Cyperus kyllingia (rumput teki), Cyperus
iria (rumput jeking kunyit), Portulaka sp. (krokot), Ageratum
conyzoides (wedusan), Molluge penaphylla (daun mutiara), dan Mimosa
pudica (puteri malu).
Pada
prinsipnya, pengendalian gulma dapat dilakukan secara kultur teknis, mekanis,
biologis, dan khemis. Pengendalian gulma pada penangkaran benih kedelai
ditekankan pada perlakukan kultur teknis dan cara mekanis. Oleh karena itu,
pengolahan tanah dan perlakukan penyiangan tanaman serta roguing perlu
dilakukan secara intensif.
B.
Hama Tanaman Kedelai
Jenis
hama yang biasa menyerang tanaman kedelai relatif banyak, baik yang berpotensi
merusak tanaman dalam katagori ringan hingga berat, mengakibatkan penurunan
produksi, dan bahkan mengakibatkan tanaman fuso (tidak menghasilkan).
1.
Hama Perusak Bibit
a.
Lalat Kacang
Lalat
kacang merupakan hama penting pada tanaman kedelai. Hama ini dikenal dengan
nama Agromyza phaseoli, Ophiomya phaseoli, Melanagromyza phaseoli atau Beanfly.
Pada umumnya, lalat kacang menyerang tanaman kedelai muda yang berumur antara
4-14 hari setelah tanam, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi.
Tanaman inang hama ini antara lain kacang hijau, kacang jogo, kacang aci,
kacang tunggak, kacang hiris, kadang bedog, orok-orok dan beberapa tumbuhan
liar.
Gejala
kerusakan tanaman akibat serangan lalat kacang adalah terdapatnya bintik-bintik
putih pada keping biji, daun pertama, atau daun kedua, yakni bekas tusukan alat
peletak telur. Gejala yang lain adalah terdapat liang berupa alur atau garis
lengkung berwarna coklat, bekas gerekan larva.
Alur
gerekan larva dari keping biji ke pangkal akar berupa spiral. Serangan larva
lalat kacang menyebabkan tanaman kedelai layu, mengering, dan mati. Serangan
pada tanaman yang berumur lebih dari sepuluh hari mengakibatkan tanaman kerdil
dan daun berwarna kekuning-kuningan.
b.
Penggerek Batang
sampai
saat ini penggerek batang bukan merupakan hama penting pada tanaman kedelai.
Hama ini juga dikenal dengan nama Agromyza sojae, Melanogromyza sojae, stem
fly dan stem borer. Pada umumnya penggerek batang menyerang tanaman muda.
Tanaman inang hama ini antara lain kacang hiris, kacang uci, dan kacang hijau.
Gejala
kerusakan tanaman akibat serangan penggerek batang adalah terdapatnya
bintik-bintik putih pada daun tanaman muda, tempat imago meletakkan telurnya.
Kerusakan lebih lanjut berupa lubang gerekan oleh larva pada daun, tangkai
daun, dan batang. Kadang ranting yang digerek menjadi patah.
c.
Penggerek Pucuk
Penggerek
pucuk juga dikenal dengan nama Agromyza dolichostigma, Melanogromyza
dolichostigma dan shoot borer. Hama ini bukan merupakan hama yang
penting, menyerang kedelai yang berumur antara 4-8 minggu, dan selalu ditemukan
di daerah sentra kedelai. Tanaman inang hama ini antara lain kacang tanah,
kacang hijau dan kacang tunggak.
Gejala
kerusakan tanaman akibat serangan penggerek pucuk adalah terdapatnya bekas
tusukan alat peletak telur pada permukaan daun bagian atas. Selanjutnya,
terdapat lubang gerekan larva pada daun, tulang daun, tangkai daun dan pucuk
daun. Daun pucuk menjadi layu, mengering, dan mati, kemudian terbentuk banyak
cabang baru namun kurang produktif.
Pengendalian
hama perusak bibit dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: Penanaman
penangkaran benih kedelai secara serempak; sanitasi kebun, roguing
tanaman yang menunjukkan gejala sakit; dan penyemprotan dengan larutan
insektisida, bila intensitas serangan pada tanaman yang berumur kurang dari
sepuluh hari mencapai 2% atau lebih.
2. Hama Perusak Daun
Beberapa
jenis hama yang menyerang daun tanaman kedelai adalah sebagai berikut:
a. Kumbang Daun Kedelai
Kumbang daun
kedelai dikenal dengan nama Phaedonia inclusa; wereng kedelai, dan soybean
leaf beetle. Hama ini merupakan hama penting pada pertanaman kedelai
dan terutama ditemukan di sentra produksi kedelai. Hama menyerang tanaman sejak
tanaman muncul diatas permukaan tanah hingga panen. Tanaman inang hama ini
berupa tumbuhan liar, antara lain Desmodium ovalivalium, D. Trifolium, D.
Gyroides, dan Pueraria phaseolides.
Gejala
kerusakan tanaman akibat serangan hama ini terlihat pada pucuk tanaman, daun,
bunga dan polong. Serangan pada tanaman muda dapat mengakibatkan kematian.
Serangann pada fase selanjutnya, mengakibatkan terganggunya pembentukan bunga,
pembentukan polong, dan pengisian biji sehingga menurunkan kuantitas dan
kualitas biji kedelai.
b. Ulat Grayak
Ulat
grayak dikenal dengan nama Spodoptera litura, Prodenia litura dan Army
Worm. Hama ini dikenal polifag dan menyerang tanaman pada berbagai fase
pertumbuhan. Tanaman inang hama ini antara lain tembakau, kacang tanah, ketela
rambat, cabai, bawang merah, kacang hijau, jagung dan lain-lain.
Gejala
kerusakan tanaman akibat serangan ulat ini adalah daun tanaman habis (hanya
tersisa tulang daun), polong muda rusak, atau seluruh tanaman rusak. Gejala
yang nampak tergantung pada jenis tanaman yang diserang dan intensitas serangan
larva muda serta larva dewasa.
c. Kumbang Tanah Kuning
Kumbang
tanah kuning dikenal dengan nama Longitarsus suturellinus, Insect Feeding,
Flea Beetle, dan Kumbang Longitarsus. Hama ini juga merupakan hama penting
pada pertanaman kedelai dan menyerang tanaman sejak benih hingga pembentukan
daun terakhir. Tanaman inang hama ini antara lain kacang hijau, kacang panjang
dan kacang tunggak.
Gejala
kerusakan akibat serangan kumbang tanah kuning adalah terdapatnya lubang-lubang
kecil bekas gigitan serangga pada keping biji, daun muda, pucuk, atau cabang
tanaman.
d. Ulat Jengkal
Ulat
jengkal juga dikenal dengan nama Plusia chalcites, Green Semilooper atau
Uler Kilen. Hama ini menyerang daun tanaman yang agak tua. Tanaman inang
hama ini antara lain kentang, tembakau, kacang hijau, dan tanaman
kacang-kacangan lainnya.
Gejala
kerusakan akibat serangan ulat jengkal adalah kerusakan daun dari arah pinggir.
Serangan berat mengakibatkan kerusakan daun hingga hanya tersisa tulang-tulang
daun.
e. Ulat Penggulung Daun
Ulat penggulung daun dikenal dengan nama Lamprosema
indicata atau leaf Roller Insect. Serangga ini menyerang daun
tanaman yang berumur 3-4 minggu setelah tanam. Tanaman inang hama ini antara
lain kacang hijau, kacang polo, kacang panjang, kacang tanah dan tanaman
penyubur tanah Clopogonium sp.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan ulat
penggulung daun adalah daun terlihat menggulung dengan bagian atas merekat.
Jika dibuka, pada bagian dalam terlihat bahwa tulang daun telah dimakan ulat.
f. Ulat Pelipat Daun
Ulat pelipat daun juga dikenal dengan nama Stomopteryx
subsecivella, Biloba subsecivella atau Aproaerema nerteria. Tanaman
inang hama ini adalah tanaman kacang tanah, kacang hijau dan kacang tunggak.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan hama ini
adalah pinggiran helaian daun merekat. Larva tinggal di daun yang merekat
tersebut dan merusak jaringan sepanjang tulang daun.
Pengendalian hama perusak daun dapat dilakukan
dengan beberapa cara, antara lain sebagai berikut:
- Penanaman serentak sehingga periode vegetatif terjadi secara serempak
- Pengolahan tanah secara baik untuk mematikan hama yang berada di dalam tanah
- Pemusnahan kelompok telur yang ditemukan
- Pengamatan dini untuk menentukan penanggulangan dengan insektisida
Batas ambang ekonomi penggunaan insektisida untuk
menanggulangi ulat grayak, ulat jengkal, ulat penggulung daun, ulat pelipat
daun, dan kumbang tanah kuning adalah 58 ekor instar 1 atau 32 ekor instar 2
atau 17 ekor instar 3 per 12 tanaman. Batas ambang ekonomi penggunaan
insektisida untuk menanggulangi kumbang kedelai adalah adanya intensitas
serangan lebih dari 2 % pada umur tanaman 45 hari setelah tanam.
III. Hama Perusak Polong
Beberapa jenis hama yang sering ditemukan merusak
polong tanaman kedelai adalah sebagai berikut:
a. Penggerek Polong
Penggerek polong dikenal dengan nama Etiella
zinckenella, E. Hobsoni, Pod Borer, atau Lima Bean Borer. Hama ini
merupakan hama utama pada kedelai, selain kumbang kedelai. Tanaman inang hama
ini antara lain Crotalaria strata, orok-orok, kacang tunggak, kacang
krotok, dan Teprosia candida.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan hama ini
adalah terdapatnya bintik atau lubang berwarna cokelat tua pada kulit polong,
bekas jalan masuk larva ke dalam biji. Seringkali, pada lubang bekas gereka
terdapat butir-butir kotoran kering yang berwarna coklat muda dan terikat
benang pintal atau sisa-sisa biji terbalut benang pintal.
b. Kepik Polong
kepik polong juga dikenal dengan nama Riptortus
linearis, Pod Sucking Bug, atau penghisap polong. Tanaman inang hama ini
antara lain Crotalaria, Tephrosia, Acacia villasa, dadap, dan keluarga
Solanaceae.
Serangan kepik polong pada polong muda menyebabkan
biji kempis dan kadang-kadang polong gugur. Serangan yang terjadi pada fase
pertumbuhan polong menyebabkan biji dan polong kempis, kemudian mengering.
Serangan yang terjadi pada fase pengisian biji menyebabkan biji busuk dan
menghitam. Serangan terhadap polong tua menyebabkan bintik hitam pada biji.
c. Kepik Hijau
kepik Hijau dikenal dengan nama Nezara viridula,
Green Stink Bug, dan Lembing Hijau. Hama ini merupakan salah satu hama
utama pada tanaman kedelai dan bersifat polifag. Tanaman inang hama ini antara
lain padi, kacang hijau, tanaman kacang-kacangan, orok-orok dan kentang.
Nimfa dan imago merusak polong dan biji kedelai
dengan cara mengisap cairan biji. Serangan yang terjadi pada fase pertumbuhan
polong dan perkembangan biji menyebabkan polong dan biji kempis, kemudian
mengering. Serangan terhadap polong muda menyebabkan biji kempis dan seringkali
polong gugur. Serangan yang terjadi pada fase pengisian biji menyebabkan biji
menghitam dan busuk.
Pengendalian hama perusak polong dapat dilakukan
dengan beberapa cara antara lain pergiliran tanaman, penanaman serempak, dan
pengamatan secara intensif sebelum dilakukan pengendalian dengan menggunakan
insektisida. Penggunaan insektisida akan cukup efektif secara ekonomi jika
intensitas serangan penggerek polong lebih dari 2 % atau jika ditemukan
sepasang populasi penghisap polong dewasa atau kepik hijau dewasa pada umut 45
hari setelah tanam.
IV. Hama Kutu
Hama kutu yang sering ditemukan menyerang
pertanaman kedelai antara lain sebagai berikut:
a. Kutu Kebul
Kutu kebul juga dikenal dengan nama Bemisia
tabacci dan Whitefly. Hama ini berpotensi menjadi hama utama pada
tanaman kedelai. Tanaman inang ini antara lain tanaman jenis Leguminosae,
semak-semak (Desmodium), tanaman pakan ternak, dan tanaman
kacang-kacangan. Kutu kebul juga berperan sebagai pengantar virus mosaik kuning
(Yellow Mosaic Virus) yang merusak tanaman kedelai.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan kutu kebul
adalah terdapatnya kutu-kutu berwarna pucat sampai kuning kehijauan pada bagian
bawah daun atau daun pucuk. Kadang-kadang juga terdapat cendawan jelaga yang
hidup dari ekskreta kutu yang berupa embun madu. Serangan berat menyebabkan
daun tanaman tampak terhambat pertumbuhannya, mengerupuk, dan lebih kaku.
b. Kutu Aphis
Kutu aphis juga dikenal dengan nama Aphis
sp., Aphid atau secara umum disebut kutu. Kutu aphis menyerang daun muda pada
berbagai jenis tanaman antara lain kacang-kacangan, terutama pada akhir musim
hujan dan musim panas. Serangan kutu aphis terhadap daun tanaman muda
menyebabkan daun menjadi kerdil dan lebih banyak polong yang kurang berisi.
Penyakit Tanaman Kedelai
Beberapa jenus penyakit yang sering ditemukan
menyerang pertanaman kedelai adalah sebagai berikut:
1. Karat Kedelai
Penyakit karat kedelai disebabkan oleh cendawan Phakopsora
pachyrhizi, Uromuces sojae, Uredo sojae, P. Sojae, P. Vignae, P. Crotalaria,
Phusopella concors, Rust Disease, atau Soybean Rust. Inang
cendawan-cendawan tersebut antara lain tanaman komak, bengkuang, kacang krotok,
kacang polong, kacang kapri, kacang panjang, dan kacang asu. Penyakit karat
kedelai biasanya mulai menyerang pada saat tanaman berumur 3-4 minggu setelah
tanam.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan penyakit
karat kedelai adalah terdapatnya bintik-bintik kecil yang kemudian berubah
menjadi bercak-bercak berwarna coklat pada bagian bawah daun, yaitu uredium
penghasil uredospora. Serangan berat menyebabkan daun gugur dan polong hampa.
Pengendalian penyakit karat kedelai dapat dilakukan
dengan beberapa cara. Oleh karena intensitas serangan penyakit ini dipengaruhi
oleh kelembaban, curah hujan, intensitas sinar matahari, dan kerapatan daun
tanaman; maka perlu digunakan varietas kedelai yang toleran antara lain Sompo,
Kerinci, Polosari, dan Tambora, terutama di daerah kronis. Pengendalian juga
dilakukan dengan mengatur jarak tanam dan perlakukan budidaya tanaman secara
benar. Jika dipandang perlu, juga dapat dilakukan pengendalian dengan
penyemprotan fungsisida.
2. Kerdil Kedelai
Kerdil kedelai atau Soybean Stunt disebabkan
oleh Soybean Stunt Virus (SSV) yang ditularkan oleh Aphis glycines
dan A. Craccivora atau melalui benih kedelai. Tanaman inang virus kerdil
kedelai sangat banyak sehingga mudah tersebar.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan penyakit
kerdil kedelai adalah tanaman tumbuh kerdil, pada helai daun tampak adanya
mosaik, daun agak menggulung dan keriput, dan tulang daun terang (vein
clearing). Gejala khas yang menunjukkan adanya serangan penyakit ini adalah
terdapatnya belang coklat yang konsentris pada kulit biji yang terserang virus.
3. Mosaik Kedelai
Penyakit mosaik kedelai atau Soybean Mosaik
disebabkan oleh virus mosaik kedelai atau Soybean Mosaik Virus (SMV).
Virus ini dapat ditularkan melalui benih, Aphis glycines, serta Myzus
persicae.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan penyakit
mosaik kedelai adalah daun melilit, melengkung, tulang daun jernih (vein
clearing), mosaik, berwarna lebih tua dibandingkan dengan daun yang sehat,
dan rapuh. Gejala khas yang nampak pada kulit biji yang terserang virus adalah
terdapatnya belang coklat yang radial.
4. Mosaik Kuning Kedelai
Penyakit mosaik kuning kedelai atau Soybean
Yellow Mosaik disebabkan oleh virus mosaik kuning kedelai atau Soybean
Mosaik Virus (SYMV). Virus ini ditularkan oleh Aphis glycines.
Tanaman inang virus ini adalah kacang tanah.
Tanaman yang terserang penyakit mosaik kuning
kedelai menunjukkan perubahan warna daun menjadi belang hijau kuning secara
tidak merata pada seluruh permukaan daun.
5. Katai Kedelai
Penyakit katai kedelai dikenal dengan nama Indonesia
Soybean Dwarf Virus (ISDV). Penyakit ini ditularkan oleh Aphis glycines.
Serangan penyakit katai kedelai menyebabkan batang
tanaman dan ruas buku (internodia) memanjang, daun tanaman berukuran kecil,
keriput, rapuh, dan berwarna lebih tua dibandingkan dengan daun yang sehat.
Pengendalian penyakit yang disebabkan oleh virus
dilakukan dengan menerapkan prinsip pengendalian terpadu melalui beberapa cara
antara lain penggunaan benih yang sehat dan bebas virus, pelaksanaan tehnik
budidaya tanaman secara sehat, dan penyemprotan dengan insektisida untuk
menekan perkembangan aphis.
Hama Gudang
Hama yang menyerang benih kedelai selama di gudang
penyimpanan terdiri dari beberapa jenis antara lain Bruchus chinensis L.
Hama gudang ini dikenal dengan nama Kumbang Bruchus. Hama ini berbentuk oval,
kepala meruncing, moncong agak pendek, bagian tubuh lebar, paha kaki belakang
membesar, warna sayap luar coklat kekuningan dan ukuran tubuh sekitar 5-6 mm.
Serangga aktif pada siang hari. Larva yang baru menetas menggerek biji kulit
kedelai. Kumbang bruchus hidup dengan leluasa jika gudang penyimpanan benih
kotor.
Gejala serangan kumbang bruchus pada biji kedelai
dikenali dengan adanya lubang-lubang pada butiran kedelai. Biji kedelai yang
terserang bruchus juga merupakan tempat berlindung serangga. Kadang-kadang
tampak serangga keluar dari dalam lubang gerekan.
Pengendalian hama kumbang bruchus dapat dilakukan
dengan menjaga kebersihan gudang dan dengan cara fumigasi, antara lain
menggunakan methyl bromida sesuai petunjuk teknis.
[]
Diketik ulang oleh Abu Hudzaifah dalam www.abumutsanna.wordpress.com
Sumber : Bab V dari Buku “Seri Penangkaran Benih
Kedelai” oleh Setijo Pitojo.
Selesai 20 September 2008 jam 02.50 WIB.
Semoga Bermanfaat…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayo berkunjung di blog gua yah